mahir, tajir, tukang sihir
hobi: menulis banjir
merenungi takdir
jarang sekali
ia nongkrong di rumah
katanya,
untuk mencari kata
harus berkelana
atau paling tidak
ngeluyur di taman kota
ketika senja
menampakkan wajah
ia kembali ke ruang kerja
mengumpulkan, membersihkan
kata-kata yang berserakan
di jalanan
sepuluh menit kemudian
pengemis renta
menghampiri pintunya
hanya mengharap recehan
yang ia simpan
dalam kaleng bekas
dengan spontan
ia menyambutnya riang:
“lain kali saja pak tua,
aku masih berpikir
bagaimana caranya
semua penyair
tak merawat kikir”
Malang, 2010
by riza multazam luthfy
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya