Bila ku tahu betapa susahnya menemukanmu di tengah tidur pulasku,dan bila kutahu hanya malam selalu persinggahan berkeluh kesahku,tentang kamu dan bantal tidurku seperti batu.
telah bercampur dengan sisa sisa asa yang mengering bersamaan datangnya rahasia2 hatiku,dan pergi setelah pagi menyapa.
Aku bersanding dengan hampa,tiada berkata dalam diam kubuat hatiku berbicara,selagi waktu tak datang menemukan kekalahanku
Kamu adalah rahasia tentang kebenaran cintaku
Sendy...
by sendy garcia
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
“Gerimis turun lagi Rie,
Ribuan jarum air menerjang tanah seakan ingin melahapnya, menghabisinya dari bawah langit yang kelabu. Tapi dibawah langit itu juga ada aku, lelaki ringkih yang juga berharap langit mengahabisi ku.
Hujan membawa kenangan mu, Rie.
Bahkan mendungnya membawa aromamu, tajam menyentuh inderaku, menusuk-nusuk kenangan yang telah lama ingin aku tinggalkan. Mengendap menjadi rindu. Lalu berdiam dihati ku, tak mau pergi, tak bisa diobati... “
by leanajail
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Seperti luka,ia menganga Seperti Cinta,ia menyapa
Ada hujan yang menetes ke bola matamu .. Ada kenangan di basah rambutku .. Ada rindu di balik ragu.
Siapakah kau,berani mengirim isyarat luka,lancang pada setia menyimpan dendam pada cinta,hingga aku pun durhaka,pada kasih yang melahirkan jiwa.
Kita diam.Takut pada hujan.Pada senja-senja yang menatap garang.Pada setiap lirik yang jalang.Pada kehormatan diri yang terbuang.
Di bibirmu,mataku menapak batu .. Di Dadaku,gairahmu memuncak nafsu .. Di hatimu,pedihku menafsir rindu .. Di Jantungku,desahmu memanjang ngilu.
Kau menguntai janji,selingkar ikrar pada jari .. Aku menyulam doa,pada lengang yang kecewa.
Mencatat yang jadi harap.Berharap,menjelma sayap,di kiri-kanan senyap.Hingga dari buku mimpiku,tumbuh kata,tumbuh haru.Namum mataharimu,bercahaya pilu.Daun-daunku pun layu.Di kemarau matamu,meregang gamang.Parau suara sayang.Dihimpit erang siang,getir suara hujan yang datang,yang terus membayang,hingga jauh malam.
Aku bukan perindu.Bukan pula pujangga,yang memuja masa lalu.Aku ragu pada kitab-kitab,membangun iman di dadaku.Pada debu dosa,merenungi perjalanan sebagai pengembara.Sebagai sunyi yang berjalan sendiri.
(Kaukah itu ,, yang mengukir harap di batu waktu?)
Lelaki yang melukai sepi.Memberi khotbah dalam hening meditasi.Dalam gelap yang melenggang ke sana kemari.Namum,ada resah yang gundah.Ada kesah tertunduk malu.juga kasih,menunggu dalam ragu.
Sandiwara yang sempurna.Di pentas hidup ini,kita saling menelanjangi diri; memperlihatkan kecacatan dan luka dari kesetian yang muram.Kita tetap menghentakkan kepedihan itu di atas dada kita yang rapuh,di jantung yang detaknya luluh.Dalam nafas,yang menghembuskan seribu keluh.
Kita takut pada hujan.Karena pada baris-baris bahagia,terungkap sebuah rahasia; sepasang anak manusia yang belajar menulis impian,namun tertipu harap di setiap ucap.Tertikam kata di setiap catat.terbunuh makna di setiap tafsir.
Kita takut pada hujan .. Kita takut tertikam harapan.
by leanajail
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Pasung di malam kelam
dimulai oleh hitungan angka
menjadi tema seni di ujung bahasa
Kosong, seolah - olah lenyap disentuh angin malam
tak tentu arah tujuan
Desahan jerit menggiring kecil
bahkan terkadang bisa ganas!
meringkuk tekuk walaupun tak sanggup
membuat hati teriris pedas
Seonggok kayu lusuh itu
tertahan di sudut kakinya
Terkadang gerah!
Gerah akan cinta yang meluap dari inti hatinya....
Di lampu kota tersirat erat bentuk wajahnya
Namun kini nyaris terbuang
by DEWI YANWARI MADYARATRI
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Gelap merombak malam
ketika hening memecah belah kerumunan orang
Seorang pria berjalan dengan kaki telanjang
menapak tanah kering tanpa berkuda
suara itu nyaris tidak terdefinisi sejenak
membangunkan himpunan makhluk kecil di balik bayangan
Satu langkah, dua langkah entah berapa langkah
Sosoknya mengisi jalan sepi menghibur malam yang telah larut
Sesampainya fajar mendapatinya sang Putih
Sang Putih urung juga terbangun dari sebuah permainan sang Hitam
Akankah sebuah permainan dikalahkan oleh rasa?
Rasa yang lebih murni daripada intan berlian
daripada sebuah perhiasan ataupun harta semata
Suara agak berat itu membisikkan sang Putih
seraya menyanyikannya sebuah bahasa kalbu
Sosoknya memang bukan yang orang – orang katakan
Namun terkadang perkataan itu diputarbalikkan
by DEWI YANWARI MADYARATRI
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Manis bukan?
Kenangan yang kita ciptakan.
Seperti gula-gula yang berjajar di toko permen.
Warna-warni dan manis.
Sebab itu kusimpan hati-hati dalam toples kaca.
Kututup rapat-rapat.
Tak seorangpun dapat mengambilnya.
Sedikit, maupun banyak.
Kenangan itu terbuat dari senyum.
Banyak sekali senyum manis.
Beberapa tetes airmata.
Yah,mungkin bukan beberapa tetes.
Satu, dua gelas, aku tak tahu pasti.
Namun rasanya masih manis.
Terlalu manis untuk kubuka tutupnya.
Tak setitikpun nila boleh merusaknya.
Kenangan yang sempurna.
Biar tetap tersimpan dalam toples kaca.
by wigresia odella
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Tahukah kau alasan aku ada?
Aku sendiri tak begitu mengerti.
Mendapati aku ada.
Dengan kerumitan disekelilingku.
Tahukan kau kata mereka?
Aku ada karena cinta
Ya, cinta.
Seakan mereka dapat mendefinisikan cinta.
Aku pernah mencoba.
Terlalu rumit, aku tak bisa.
Tahukah mengapa aku masih ada?
Kuselidiki mengapa,
Tak dapat kuberikan jawaban selain karena Kemurah Tuhan.
Sudah semestinya, karena Ia Penyayang.
Tahukah kau untuk apa pula kau ada?
Kau mungkin bilang, untuk senantiasa beribadah padaNya.
Seperti yang kau pelajari dari kitab.
Namun aku punya satu alasan lagi.
Alasan yang benar-benar nyata benarnya.
Kau ada,
untuk memberiku alasan.
untuk ada.
by wigresia odella rahmata
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
langit terlihat kelam menghitam,nampak sombong hiasi langit
gemuruh terdngr menggelegar memecah sunyi
ombak bergulung2 tinggi seolah ingin mencakar langit
angin bertiup kencang seolah ingin memporak porandakan alam
begitulah gambaran amarah dlm jiwaku
amarah yg tak lg dpt ku menahan nya krn sakit yg ku rasa ini tak terperihkan lg
ingin ku hiasi mataku dg merahnya api agar tatap mataku dpt membakar tbh mu
ingin ku kumpulkan kelima jariku agar dpt mendaratkan sbuah tamparan keras di pipimu
ingin ku asah lidahku setajam pedang tuk lontaran kata yg dpt menembus jantung mu
amarah ini untuk mu
amarah yg terlahir dari sbuah penghianatan dan kebohongan yg kau buat sendiri,,,,!!!
by chieza maurel
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Berdalil Sayang
Kita Buka Ketabuan
Berdalil Kasih
Kita Tanggal Norma Berlaku
Berdalil Cinta
Kita Lepas Penutup Aurat
Berdalil Birahi
Kitapun Bersetubuh
Diatas Kasur Nafsu Asmara
Disupport Situasi
Sunyi Senyap, Gelap Pekat
Kita Bersetubuh
Dengan Alasan Pembuktian Cinta Sejati
Itu konyol, Itu Bodoh.
by Abdul Majid Kamaludin
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Tak ada niat ku bersetubuh dengan sunyi dan sepi
Hingga tersalib dipasungan hari rapuh terterpa angin sepi
Dilubangi waktu dengan rindu dan cinta
Dilumat rasa buat kokoh tak lagi tegak.!!!
Bukankah....!!! kecapi telah dimainkan....???
Juga lonceng terdentang kencang tak karuan
Sekedar laku, ulah angin yang menepi.
Tapi, mengapa.....???
Aku masih berkecimpung dalam persekutuan diam
Bersetubuh dengan sunyi dan sepi
Haruskah raga mempersetubuhkan raga...???
biar terlepas bebas dari pemasungan hari....???
karena ceria bertemu kasih......!!!
by Abdul Majid Kamaludin
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Aku mencintai mu
Disetiap desah nafas berpacu
Disetiap detik, menit melaju
Disetiap laju darah memacu
Disetiap hening waktu berlalu
Disetiap malam yang hanya ditemani dingin
Disetiap hari yang tak lagi ku hirau
Aku mencintai mu.
Momerial in sabu (NTT).
by Abdul Majid Kamaludin
Tuk : Dewi Yanti Wadu
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Kemana cinta akan pergi menjauh
Melewati Gunung Simarjarunjung
Menangis bersedih dan kehilangan wajah
Menghadapi kesedihan hati yang resah
Haruskah cinta ini dibuang ke dasar danau Toba
Atau dikorbankan pada Dewi Sanyang Naga
Haruskah aku masuk ke jurang bertuah
Hanya demi cinta ini
Butet merana dalam kesedihan
Ucok mengais harapan yang putus
Dimana cinta ini bertemu
Hanya Debata yang dapa mengerti
by Luciana Theodora
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Hatiku hancur oleh besarnya egomu
Terhempas badai amarahmu yang besar
Menangis dalam sakit hati yang sepi
Merindu saat hatimu tak lagi bersamaku
Aku memang sahabatmu yang dekat
Tapi tak pernah sedikitpun rasa itu tersampaikan
Di bawah rintik hujan aku mencari
Berharap hatimu hanya untukku
Pergilah jangan hiraukan aku
Aku memang selalu disini
Menunggu cinta yang selalu pudar darimu
Kenangan cinta tak terbalas
by Luciana Theodora
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Kualirkan nada-nada penuh canda
Terlihatkan senyum-senyum para penggembala
Indah bak mutiara
Tersebar penuh uratan bernyawa
Facebook pancarakan cinta
Mengenal insan tak terhalang rona
Alunan merintih penuh nyata
Kecil bermanfaat bagi yang merasa
Ajang teman berkumpul
Bersatu wujudkan bagai sampul
Kulukiskan benang sambung-menyambung
Saling berkait berhubung
Jalan indah bagai kerudung
Kaki tak kan tersandung
Bukan isapan kelingking
Tapi nyatakan pipih piring
Sejuk bergenta berpuring
Saatkan ungkapan keasyikan bersanding
by chichi aisyatud da'watiz zahroh
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Aku bertahta dalam kesedihan hati
Bertarung dengan waktu menembus sepi
Menahan kesakitan dalam malam yang hujan
Mengingat seribu bayang nan rapuh
Aku mengingat wajahmu yang sendu
Tertimpa matahari dan hujan di sana
Mengais rindu tak terkatakan di hati
Mengemis cinta pada bayangan tak nyata
Kepergianmu yang aneh membuatku bertanya
Kepada sang bulan merah jambu di sana
Adakah cinta begitu mempermainkan perasaan
Sehingga rasa sakitnya seperti racun arsenik
Bayangan sang kematian merayap sepoi-sepoi
Bersama bintang yang redup di pelabuhan gelap
Menilik seseorang tertidur dalam sepi
Menanti belahan jiwa kembali dalam pelukan
Kembali dalam sangkar emas
Aku melihatmu yang sedih
Membayangkan asamu tuk kembali
Merengkuh cinta kita yang abadi
by Luciana Theodora
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya
Engkaukah itu.......??
yang memungut senja dan sisa cahaya menghilang
lalu bersinar cahaya rembulan
coba mengusir malam dan gelap
tersiksa dingin, tercekik bahkan tergigit
hingga pagi kembali berseri
adakah engkau masih menanti......??
by Abdul Majid Kamaludin
klik di dini untuk melihat puisi selanjutnya